Thursday, September 27, 2012

Tawuran Pelajar Yang Berujung Maut dan Penjara

Senin (24 September 2012) terjadi tawuran yang melibatkan siswa dua SMA Negeri di Jakarta yaitu SMAN 70 dan SMAN 6. Pada tawuran ini jatuh korban tewas seorang siswa kelas X SMAN 6 bernama Alawy Yusianto Putra(15). Alawy tewas akibat bacokan senjata tajam clurit. Pelaku utama pembacokan adalah FR, siswa kelas X SMAN 70. Belum lagi kekagetan kita reda akibat kejadian ini, Rabu (26 September 2012) terjadi lagi tawuran yang melibatkan siswa SMK Kartika Zeni dengan SMA Yayasan Karya (Jakarta) yang juga memakan korban jiwa. Pada peristiwa terakhir, yang menjadi korban adalah siswa kelas XII SMA Yayasan Karya (YK) bernama Deny Yanuar (17). Deny mengalami nasib serupa dengan Alwy, yaitu tewas akibat bacokan senjata tajam berupa arit. Pelaku pembacokan Deny adalah AU (17) siswa SMK Kartika Zeni. Baik FR maupun AU keduanya kini menjadi tahanan polisi.

Sebagai pendidik dan orang tua kita sangat sedih dan prihatin mendengar kejadian seperti ini. Kita tak pernah menginginkan anak-anak kita menjadi pelaku tindak kriminal (kejahatan). Kita juga tak ingin anak-anak kita terampas mimpinya disaat usia mereka masih sangat muda (mati muda). Kita semua ingin anak-anak kita menjadi anak-anak muda yang berhasil, berprestasi, cerdas, dan kreatif. 

Sebagai pendidik dan orang tua kita harus bersikap realistis dan bijak. Perkelahian antar pelajar atau tawuran memang hal yang kerap terjadi dan bisa dianggap wajar untuk usia mereka. Kejadian semacam ini adalah cerita lama. Anak-anak remaja sedang dalam masa bergejolak dan masa mencari identitas. Emosi mereka mudah tersulut. Solidaritas antar teman sangat kuat. Perkelahiran antar pelajar bisa kita terima asal masih dalam batas wajar dan tidak berbahaya. Tapi jika sampai jatuh korban jiwa; jika sampai ada yang dibacok atau kena bacokan; jika sampai ada yang membawa senjata tajam, ini jelas bukan tawuran biasa. Ini sesuatu yang serius dan butuh perhatian.

Mari kita renungkan: boleh saja kita mengecam pelaku pembacokan (yang notabene masih remaja) dan menuntut hukuman berat bagi mereka. Dilain pihak kita juga menaruh simpati dan iba pada si korban (yang juga remaja). Tapi bagi kami, kedua-duanya - baik si korban ataupun pelaku - sungguh kasihan. Yang satu harus berhenti di tengah jalan sebelum mimpinya tergapai (mati sia-sia). Sementara yang lain, mimpinya kandas di balik jeruji besi. Orang tua si korban pasti teramat sedih harus kehilangan buah hatinya. Orang tua si pelaku pun tak kalah sedih menyaksikan anaknya menjadi narapidana remaja. 

Terhadap si pelaku yang harus mendekam di penjara, kami menaruh rasa khawatir yang lebih besar. Bukan cerita fiksi jika anak-anak pelaku kriminal yang dijebloskan ke penjara akan menjadi penjahat betulan ketika keluar penjara. Apalagi jika mereka disatukan dengan pelaku kriminal dewasa. Para napi dewasa di penjara akan melatih anak tersebut menjadi penjahat sesungguhnya. Ini sungguh berbahaya.

Sesungguhnyalah baik korban ataupun pelaku pembacokan dalam tawuran, kedua-duanya merupakan korban. Mereka merupakan korban dari sebuah masyarakat yang sakit. Mereka merupakan korban dari sebuah masyarakat yang tidak mampu memberi jawaban atas pertanyaan-pertanyaan di benak para remaja. Mereka merupakan korban dari masyarakat yang penuh kemunafikan. Mereka merupakan korban dari masyarakat yang penuh dengan sikap tak peduli. Mereka merupakan korban dari masyarakat yang individu-individunya hanya mementingkan diri sendiri. Mereka merupakan korban dari masyarakat yang tokoh-tokoh pemegang otoritasnya tak pantas untuk ditiru dan diteladani.

Marilah kita tengok lembaga yang bernama sekolah. Lembaga ini hanya bernafsu menjejalkan berbagai materi pelajaran kepada semua anak didiknya tanpa bertanya apa yang mereka maui. Pendidikan tidak berawal dan berakhir pada si anak didik. Pendidikan berawal dan berakhir pada pihak lembaga. Pendidikan hanya mengajarkan apa yang dianggap baik menurut orang dewasa (orang tua, guru, pejabat), bukan apa apa yang benar-benar dibutuhkan si anak. Mereka tidak diberi kesempatan untuk berkembang menjadi diri mereka sendiri. Bahkan mereka ditindas dan dimatikan individualitas dan kreativitasnya. Mereka dibentuk dan diseragamkan. Bahkan jika mereka tak suka dengan apa yang harus dipelajari, mereka tak bisa protes. Mereka tak bisa menolak. Mereka mau tak mau harus menerima dan menelan apa yang disuapkan ke mulut mereka. Ya inilah gambaran dari masyarakat yang sakit. Pendidikannya bukan untuk menggali potensi, bakat, atau kelebihan masing-masing anak.

Semestinya jika anak-anak kita itu bisa menemukan aktivitas yang positif dan produktif; jika mereka merasa bahwa hidup mereka bermakna, tentulah tak akan terjerumus perbuatan yang sia-sia. Dalam masyarakat yang habis digerus paham materialistis (mendewa-dewakan materi) para orang tua pun seperti kehilangan arah dalam memberi pemahaman terhadap anak-anak tentang bagaimana seharusnya hidup ini dijalani. Anak-anak bisa minta ini minta itu; menginginkan ini itu yang bersifat materi, tapi bukan berarti memang itu yang mereka butuhkan. Lebih dari itu, manusia menginginkan makna. Manusia menginginkan arti. Apa hidup ini dan harus apa saya didalam hidup. Apa arti dan tujuan dari hidup ini. Kami kira anak-anak remaja pun menginginkan hal ini. Kegagalan dalam menemukan makna dan tujuan berarti sakit. Bukan sakit lahir, tapi sakit rohaniah.

Adalah tantangan kedepan bahwa pendidikan, baik di keluarga maupun di lembaga pendidikan formal, seharusnya membantu si anak menemukan hidupnya yang penuh arti dan mendatangkan kegembiraan. Pendidikan harus mampu membantu si anak dalam menemukan apa yang hendak dia lakukan dan dimana posisinya dalam hidup ini. Jika tidak, masa depan suram dan tak jelaslah bagi si anak. Jika mereka tak tahu apa yang harus mereka lakukan dan kemana ia harus melangkah, maka kesia-siaanlah yang akhirnyan jadi pilihan. Mereka bisa terlibat narkoba sampai OD (over dosis), terlibat minuman keras, terlibat pergaulan bebas, terlibat tawuran sampai bablas (membunuh tanpa belas kasihan), dan perilaku-perilaku kriminal lainnya. Para orang tua jangan hanya terfokus pada usaha pemenuhan kebutuhan materi. Lebih dari itu, kebajikan juga harus secara pasti ditanamkan pada jiwa si anak. Para guru jangan hanya terfokus pada ketuntasan materi. Lebih dari itu perhatian yang tulus, simpati dan empati terhadap anak didik memiliki nilai lebih tinggi dibanding segala materi pelajaran apapun.

Pendidikan harus memenuhi rasa keadilan. Setiap anak berhak atas kesempatan yang sama. Semestinyalah tidak ada kelas-kelas dalam pendidikan. Seharusnyalah tak ada yang namanya sekolah favorit, sekolah elit, sekolah bertaraf internasional dan sebagainya. Pemerintah harus memberi kesempatan yang sama bagi semua sekolah untuk mendapatkan bantuan yang semestinya. Dengan begitu, penganakemasan sekolah-sekolah tertentu haruslah dihindarkan. Ini untuk mencegah sentimen dan sikap arogan pada siswa-siswa dari sekolah dengan fasilitas mumpuni. Juga untuk menghilangkan rasa minder serta iri siswa-siswa yang berasal dari sekolah-sekolah kelas dua, atau sekolah kelas sekian. Sesungguhnya semua label yang menunjukkan pengkelasan tersebut hanyalah bungkus yang penuh kepalsuan.


Penulis asli tulisan ini ada pada admin smppgrijatinangor.blogspot.com.
Copy paste (copas) silakan, tapi dimohon cantumkan sumber asli tulisan.

Share Article on :

No comments:

Post a Comment