Tuesday, December 4, 2012

Kurikulum 2013 SMA: Menyoal Sistem Penjurusan



menyoal sistem penjurusan di sma
Dalam draf kurikulum 2013 SMA, permasalahan penting yang menjadi perhatian pemerintah adalah soal penjurusan. Isu-isu terkait penjurusan di SMA adalah sebagai berikut:

1.  Apakah masih perlu penjurusan di SMA? Menurut pemerintah, saat ini sudah tidak ada negara yang menganut sistem penjurusan di SMA. Selain itu, sistem penjurusan yang ada sekarang tidak relevan dengan pemilihan fakultas atau jurusan di perguruan tinggi (PT). Selama ini siswa lulusan jurusan IPA bisa memilih fakultas ilmu sosial dan sebaliknya. 

Alternatif pemecahan:
Tetap ada penjurusan, tapi dilakukan sejak kelas X. Mengapa kelas X? Maksudnya agar siswa tidak dibebani jumlah pelajaran yang terlalu banyak. Dengan penjurusan sejak kelas X, siswa hanya mempelajari mata pelajaran yang sesuai dengan jurusan yang dipilih.
Kelemahan dari pilihan ini adalah:  (1) ketinggalan jaman, (2) penentuan jurusan harus berdasarkan hasil belajar sebelumnya (raport SMP, tes penempatan, atau tes bakat), (3) timbulnya stigma jurusan yang unggul ( IPA biasanya dipandang jurusan anak-anak yang pandai).

2.  Jika penjurusan dihilangkan maka jumlah mata pelajaran di SMA akan menjadi terlalu banyak seperti pada kelas X saat ini (18 Mata Pelajaran) sehingga diperlukan mata pelajaran pilihan dan mata pelajaran wajib.

Alternatif pemecahan:
Berdasarkan minat pada pendidikan lanjutan. Siswa memilih mata pelajaran yang sesuai dengan bidang ilmu yang akan dia pilih jika melanjutkan ke perguruan tinggi. Dengan sistem ini siswa tidak harus mengambil mata pelajaran yang tidak disukai  tapi tetap ada pelajaran wajib.

Menurut kami, pilihan ini cukup berat dan merepotkan terutama bagi sekolah swasta yang jumlah siswanya sedikit. Bayangkan jika jumlah siswa per tingkat hanya terdiri dari 30 orang ( satu kelas) pasti sistem ini akan menyebabkan siswa yang sedikit terpecah menjadi lebih dari satu kelas yang berarti pula membengkaknya biaya operasional. Padahal selama ini, sekolah dengan jumlah siswa sedikit, 'menggiring' siswanya memilih satu jurusan saja (satu kelas).

3. Perlunya memberi kesempatan bagi mereka yang memiliki kecerdasan diatas rata-rata untuk menyelesaikan lebih cepat atau belajar lebih banyak melalui mata pelajaran pilihan.

Alternatif pemecahan:
Tidak ada penjurusan dan diterapkan Sistem Kredit Semester (SKS). Kedengarannya menarik. Dengan sistem ini, batasan kelas menjadi kabur. Bisa terjadi siswa kelas XI dan XII berada dalam satu kelas karena mengambil mata pelajaran yang sama. Juga bisa terjadi, siswa yang mendaftar belakangan lulus bareng atau mendahului siswa angkatan sebelumnya. Ya seperti di perguruan tinggi. Tapi siapkah SMA menerapkan sistem semacam ini (SKS)? Bagaimana pula implikasinya, jika sistem yang ini yang diterapkan, bagi sekolah-sekolah kecil?

Itulah isu-isu terkait penjurusan di SMA dalam draf kurikulum 2013 dan alternatif pemecahannya. Menurut hemat kami, penjurusan di SMA memang sudah waktunya dikaji ulang atau bahkan dihilangkan. Toh penjurusan yang berlaku sekarang tidak jelas dasar pemikirannya. Tapi kami juga setuju bahwa jumlah mata pelajaran di SMA harus dipangkas sampai batas yang wajar. Saat ini ada 18 mata pelajaran untuk kelas X SMA dan antara 15 sampai 16 mapel untuk kelas XI dan XII. Jumlah ini overload, berlebihan. Jika di SMP akan ada 10 mapel, cukup wajar untuk SMA 12 sampai 13 mapel saja. Anda tentu ada pemikiran lain tentang hal ini. Nah bagaimana baiknya?

Sumber data: Bahan Uji Publik Kurikulum 2013

Penulis asli tulisan ini ada pada admin smppgrijatinangor.blogspot.com.
Copy paste (copas) silakan, tapi dimohon cantumkan sumber asli tulisan.

Share Article on :

No comments:

Post a Comment